Kehidupan manusia dapat diibaratkan seperti sekeping uang logam yang pasti memiliki dua sisi bermotif. Yang mungkin membedakan adalah pada uang logam, satu sisi bermotif gambar dan sisi yang lain bermotif angka. Sedangkan pada manusia, dua sisi tersebut adalah motif warna. Hitam dan putih.
Ketika kita dulu masih kanak-kanak dan bermain menggunakan koin, ada kalanya koin itu mampu berdiri dan memperlihatkan kedua motif miliknya. Keadaan yang sangat jarang terjadi. Apakah demikian juga yang terjadi pada manusia? Mana yang lebih sering terjadi? Terlihat kedua sisi manusia atau hanya salah satu dari keduanya? Seberapa banyak manusia yang mampu memperlihatkan sisi putihnya dibanding dengan sisi hitam? Mungkin keadaan bìsa berimbang atau sebaliknya hanya menampakkan salah satu sisi. Beberapa alasan yang dipakai untuk sekedar menghindar, salah satunya adalah dengan mengatakan diri kita bukan dan tidak sama dengan seorang nabi, sosok terpilih yang senantiasa mendapat teguran manakala hendak berbuat salah. Alasan yang dianggap cukup memiliki kekuatan untuk mengelak. Padahal kalau kita mau berpikir praktis dan mau segera melaksanakan ide baik yang muncul darì pikiran kita, tentunya kita pun memiliki kesempatan yang sama untuk meraih keagungan ridla-Nya. Janji nabi muhammad kepada kita dengan sering mengucap sholawat kepada beliau, kita pun beroleh keselamatan dan kegembiraan yang sudah pasti datang dari pemberi keselamatan Tuhan yang esa, Allah SWT.
Untuk itulah, sisi mana dari diri kita yang ingin kita tunjukkan sangat bergantung dari kita sendiri. Dan manusia lain yang melihat kitalah yang akan menilai motif warna diri kita. Akankah kita berkesempatan menampakkan warna yang lain selain putih dan hitam? Dan apakah hal itu akan mungkin terjadi?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu menghayati kata-kata berikut. "TIDAK ADA YANG TIDAK MUNGKIN DI DUNIA YANG BUKAN MILIK KITA INI, BILA SANG PEMILIK YANG MAHA AGUNG TELAH MENGELUARKAN SABDA-NYA."
DUA SISI MATA UANG PADA DIRI MANUSIA
Diposting oleh Mushofatul di 11:31 AM 1 komentar
KUASA ILAHI DI SETIAP RUAS JARI KITA
Pernahkah anda perhatikan tangan kanan anda?
Lihat baik-baik! Ada refleksi nama Allah SWT. Lalu perhatikan lebih dalam lagi. Di setiap ruas jari kita, terdapat ruang berongga yang berisi cairan sinovial. Ya...cairan yang ada di antara sendi. Pelumas yang memudahkan kita menggerakkan jemari. Bila terjadi gangguan pada cairan ini, banyak kenikmatan yang akan terlewatkan. Kekakuan sendi yang membatasi keleluasaan gerak kita.
Lebih mudah bagi kita untuk mencegahnya dengan senantiasa bersyukur ketimbang tanpa sadar kita telah menelantarkannya.
Kalau kita sanggup meluangkan waktu untuk bekerja atau menyalurkan hobi, masa sih kita tak punya waktu untuk mengucap kata syukur dan memanfaatkan tangan kita untuk meraih ridla ilahi. Dengan semangat islami, mari kita saling mengingatkan untuk sering mengucap kalimah syukur dan toyyibah.
Diposting oleh Mushofatul di 2:37 PM 0 komentar
WIN – WIN NEGOTIATION
Kisah sederhana berikut mungkin dapat dijadikan pandangan bahwa kita dapat melakukannya, dengan sukarela sekalipun.
Seorang ibu dibuat pusing oleh kelakuan kedua putranya. Keduanya bertengkar memperebutkan satu buah jeruk. Tidak ada yang mau mengalah. Masing-masing menginginkan jeruk tersebut hingga akhirnya sang ibu memutuskan membelah buah jeruk tersebut menjadi dua bagian sama. Satu diberikan kepada putra pertamanya dan satunya diberikan kepada putra keduanya. Putra pertamanya, begitu menerima belahan jeruk tersebut, ia melangkah ke ruang tengah dan dengan cepat dikupasnya jeruk itu lalu dinikmati daging buahnya. Kulit jeruk tersebut ditinggalkan begitu saja di sebelah tempatnya duduk. Sedangkan putra keduanya, langsung membawa belahan jeruk miliknya ke ruang depan. Dengan hati-hati dikupasnya jeruk itu tanpa merusak kulitnya. Setelah dia dapatkan kupasan kulit jeruk itu, daging buahnya tidak dimakan tapi diletakkan begitu saja di sebelah tempatnya duduk. Dan dia mulai bekerja dengan kulit jeruk itu. Dibentuk sedemikian rupa hingga menyerupai sebuah mobil mini. Dia tampak puas dengan hasil kerjanya. Sang ibu yang memperhatikan polah tingkah kedua putranya jadi menyesal. Kalau tahu akan begini, kenapa juga tadi buah jeruk itu dibelah menjadi dua. Padahal, kedua putranya bisa saja mendapatkan bagian buah jeruk tersebut masing-masing utuh, pikir sang ibu.
Itu adalah cerminan kecil dari sebagian besar kehidupan manusia. Yang mengubah pandangan kita bahwa kita benar-benar dapat melakukan win-win negotiation. Dengan cara bagaimana ? Kita berikan saja sesuatu dalam hidup kita yang sedikit tidak membawa manfaat bagi kita tetapi justru merupakan bahan pokok kebahagiaan orang lain. Kita memperoleh kelegaan ketika sesuatu yang mungkin membebani kita tersebut telah kita bagi dan ternyata bermanfaat untuk orang lain. Kita beroleh kebahagiaan dan orang lain pun menikmati kebahagiaannya. Masing-masing utuh.
Terinspirasi dari radio swasta di Jombang tertanggal 27 Maret 2008 jam 06.00
Diposting oleh Mushofatul di 12:51 PM 1 komentar
Label: anak, ibu, jombang, Mushofatul, win negotiation
HIDUP UNTUK REPOT ??!
Pagi ini, seperti biasanya, aku berangkat ke kantor. Berjalan kaki dengan tenang dan tidak tergesa. Jarak kantor dengan tempat kost aku, tidaklah terlalu jauh. Selain bisa berhemat, itung-itung berolahraga dan menikmati keindahan ciptaan-Nya. Sesampai di kantor, rekan sejawatku sudah banyak yang hadir. Kegiatan rutin pertama kali adalah menjabat tangan rekan dengan gender sejenis. Dapat mempererat tali silaturahim, begitu kata orang bijak. Setelah bercanda sana-sini, baru aku menuju meja kerjaku. Kuletakkan tas dan aku duduk di singgasanaku yang kurasakan paling nyaman. Di tempat aku kerja.
Hari itu, tak banyak kegiatan yang kulakukan. Menunggu mahasiswa-mahasiswa yang akan kuliah. Aku mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan itu. Setelah mereka siap, aku menuju ke kelas mereka. Agendanya adalah pengenalan silabus karena mahasiswaku tersebut baru memulai hari pertama kuliah di semester baru. Tak terasa hampir satu setengah jam aku berada di kelas itu. Kuakhiri saja kelas dan meninggalkan mereka.
Begitu aku kembali ke ruang dosen, kulihat salah seorang rekan kerjaku akan keluar. Spontan aku bertanya kepadanya, ”Ibu, mau kemana ?”. Pertanyaanku tersebut cukup membuatnya menghentikan langkahnya. ”Saya mau ke kantor Akper terus sekalian fotokopi. Mau ikut ?” tawarnya kepadaku. Hm....ke kantor Akper? ”Mau. Kebetulan ada yang ingin saya cari. Tapi sebentar, saya ambil dompet dulu.” jawabku.
Selang berikutnya, kami sudah berjalan beriringan menuju tempat parkir sepeda motor. Beliau mengambil sepeda motor miliknya dan menaikinya. Dengan santai, aku membonceng di belakang beliau. Dalam perjalanan menuju ke kantor Akper yang letaknya tidak terlalu jauh, aku mencoba menanyakan satu pertanyaan kepadanya. Ya....sekedar perbincangan ringan, menurutku.
”Bu, boleh saya menanyakan sesuatu ?” tanyaku. ”Boleh...”
”Sebenarnya manusia itu hidup untuk apa sih, Bu?” tanyaku lagi.
Beliau tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menjawab pertanyaanku itu. Hanya beberapa detik setelah aku menutup mulut, beliau menjawab, ”Untuk repot....!”
Kontan aku terkejut dengan jawaban beliau. Entah itu begitu saja terucap atau memang pengalaman beliaulah yang saat itu menjawab pertanyaannku.
”Untuk repot ?....Maksud Ibu ?” tanyaku meminta penjelasan.
”Ya, iya. Manusia itu hidup untuk repot. Coba dipikir. Manusia yang belum memiliki pasangan hidup. Dia pasti akan mencari pasangannya kan? ” jelasnya.
”Iya.” jawabku singkat.
”Nah, Mbak kan tahu, orang yang menikah itu pasti repot. Dia harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan pas.” Beliau menghentikan penjelasannya sejenak. Seolah memberikan kesempatan kepadaku untuk mencernanya. Iya, ya, pikirku.
”Terus, setelah menikah pasti mereka punya keinginan untuk segera mendapatkan keturunan. Mendapatkan anak. Iya, kan? Padahal, setelah mereka benar-benar mendapatkannya. Yang dihadapi adalah kerepotan-kerepotan yang tidak kunjung usai. Satu dapat diatasi, bisa dipastikan kerepotan yang lain akan muncul. Begitu, kan?” jelasnya lebih lanjut.
”Iya, ya, Bu. Manusia hidup itu memang harus repot. Kalau nggak mau repot, ya jangan hidup. Karena memang itulah yang akan ditemuinya sampai menjelang ajal menjemput.” simpulku saat itu.
Perbincangan singkat itu, mau tidak mau membuatku berpikir.
Manusia hidup untuk repot.
Aplikasinya memang begitu. Tapi, kalau kita mau benar-benar menelaah lebih dalam lagi, dibalik semua kerepotan tersebut, tersimpan janji Tuhan aku ( Allah SWT ). Janji berupa anugerah yang tidak dapat dinilai dan digantikan oleh apapun di bumi ini. Janji yang sudah tercantum dengan sangat jelas (bahkan diulang sampai 2 kali) didalam Al-Qur’an surat Al-Insyiroh ayat 5 dan 6. Yang diterjemahkan sebagai berikut : ”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
Tuhan aku ( Allah SWT ), bila sudah berjanji pasti menepati janjinya. Kelanjutan dari kedua ayat tersebut diatas, dapat kita jadikan pegangan dalam menjalani kehidupan. Yaitu : ”Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan). Kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah, hendaknya kamu berharap.” (QS. Al-Insyiroh : 7 dan 8).
Jadi, walau kehidupan kita penuh dengan ”kerepotan”. Jalanilah dengan ikhlas dan sungguh-sungguh. Karena dibalik semua itu, telah menanti kenikmatan tiada tara yang telah dijanjikan oleh Tuhan aku ( Allah SWT ).
Diposting oleh Mushofatul di 2:54 PM 0 komentar
Label: Allah SWT, hidup, Mushofatul, repot, Tuhan
TANGISAN CHRISYE :………KETIKA MULUT TAK LAGI BERKATA
Saya dapatkan artikel ini dari seorang sahabat di Jakarta. Beliau mengirimkannya melalui email. Hal pertama yang menarik perhatian saya adalah judul (subyek) email dari beliau, yaitu TANGISAN CHRISYE. Sosok berhati lembut yang sudah lebih dulu dijemput Sang Khalik.Saya simpan isi email tersebut di laptop supaya saya berkesempatan membacanya setiap saat. Kata demi kata tidak saya lewatkan hingga tanpa terasa HATI SAYA MENDESIR DAN BERGETAR. Perlahan saya rasakan sesuatu yang hangat keluar dari sudut mata saya dan ia mengalir pelan menyusuri kulit pipi saya. Ya, Allah....SAYA MENANGIS !
Silakan Anda meluangkan waktu sejenak untuk membaca artikel ini dengan hati Anda !
Penyair Taufiq Ismail menulis sebuah artikel tentang Krismansyah Rahadi (1949-2007) di majalah sastra HORISON.
Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, "Bang, saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?" Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi relijius.
Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul. Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan. Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, " Chris, maaf ya, macet. Sori." Saya akan kembalikan pita rekaman itu. Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin. Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi, A'udzubillahi minasy syaithonirrojim. "Alyauma nakhtimu 'alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibuun" saya berhenti. Maknanya, "Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan." Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!
Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke larik-larik lagu tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah.
Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai. Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata. Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon," Chris, alhamdulillah selesai". Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut. Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.
Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye ? Sebuah Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye: Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu.
Baru dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba lagi. Menangis lagi.Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata.
Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya. "Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65..." kata Taufiq. Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri! Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya. Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai. Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari!
Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benar meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi.
Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat kelak.
Mengenai menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi pada Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.
Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut.
"Kenapa Bang, kurang?" Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya.
Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya. Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar. "Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun ' kan ?"
Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun senang.
Pada subuh hari Jum'at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album sountrack, 20 album solo dan 2 filem. Semoga penyanyi yang lembut hati dan pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga terbuka lebar baginya. Amin. #
Diposting oleh Mushofatul di 4:09 PM 1 komentar
Label: Mushofatul, renungan
SELAMAT JALAN MANTAN PRESIDEN .....!

Hari ini tepat tanggal 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB, mantan presiden H. M. Suharto tutup usia. Setelah berjuang dengan kesehatan yang fluktuatif selama 24 hari, akhirnya sampai juga beliau pada satu titik. Kekuasaan Tuhan yang tidak ada seorang hamba pun kuasa menghindar atau pun menolaknya.
Beliau wafat di saat putusan status hukum beliau belum ditentukan. Situasi yang sama ketika presiden RI pertama yaitu Sukarno wafat.
Untuk sementara, paling tidak selama 7 hari ke depan, beliau masih layak mendapat penghormatan. Aliran doa akan mengalir di antara hari-hari tersebut. Sejenak kita menundukkan kepala dan mendendangkan doa, terlepas dari semua kesalahan yang pernah beliau perbuat. Seperti cuplikan kata-kata presiden Susilo Bambang Yudhoyono berikut ini :
"Saya mengajak seluruh rakyat untuk berdoa agar arwah almarhum diterima di sisi Allah. Kita doakan agar keluarga diberi ketabahan dalam menghadapi cobaan dan dapat menyongsong hari esok yang lebih baik," ucap SBY.
"Saya ajak rakyat memberikan penghormatan tertinggi kepada putra terbaik bangsa atas jasa-jasanya,
Sebesar apapun kesalahan beliau, itu merupakan bagian dari nash Allah. Kita sebagai hamba yang cerdas, hendaknya lebih pandai dalam menangkap hikmah dan pelajaran dari padamnya nyala lilin kehidupan seorang Suharto. Akhirnya kelak kita pun pasti menghadapi hal yang sama.


Diposting oleh Mushofatul di 5:24 PM 2 komentar
Label: berita terbaru, Mushofatul
TEH..........UKAH ENGKAU ?
Sebuah penelitian baru berhasil mengungkap TEH juga bermanfaat untuk MENCEGAH BAU NAPAS TAK SEDAP.
Masalah napas tak sedap disebabkan komponen sulfur kotor yang mudah menguap dari bakteri yang berkembang dalam lingkungan kurang oksigen seperti belakang lidah dan celah gusi.
Para peneliti Amerika meneliti pengaruh POLYPHENOL, sebuah komponen kimia yang ditemukan dalam teh, pada tiga spesies bakteri yang dihubungkan dengan napas tak sedap. Mereka menemukan konsentrasi polyphenol yang relatif rendah dapat merangsang pertumbuhan bakteri pemicu napas tak sedap.
Menurut Prof. Christine Wu dari Universitas Illinois, Chicago yang mempresentasikan penemuan penelitian ini dalam pertemuan tahunan America Society for Microbiology mengatakan, RATA-RATA SATU CANGKIR TEH HITAM MEMILIKI KEKUATAN MEMBUNUH BAKTERI PENYEBAB NAPAS TAK SEDAP. Meski begitu tetap diperlukan lebih banyak bagi bakteri yang menyebabkan napas tak sedap dalam gusi.
Secangkir teh dengan kekuatan normal cukup untuk membunuh bakteri pada lidah. Selain menghambat pertumbuhan patogen dalam mulut, teh hitam dan polyphenolnya bermanfaat bagi kesehatan mulut manusia dengan menekan komponen penyebab napas tak sedap yang dihasilkan bakteri patogen.
Sumber : Koran Harian Surya, Januari 2008.
Diposting oleh Mushofatul di 9:55 AM 4 komentar
Label: Mushofatul, tips menarik

